Jakarta, InfoPublik - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meluncurkan Pusat Layanan Digital Terintegrasi untuk informasi Meteorologi Publik, Penerbangan dan Maritim di Ternate, Maluku Utara, yang merupakan zona strategis di Tepi Pasifik.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengemukakan, kehadiran Pusat Layanan Digital tersebut sejalan dengan Inovasi Teknologi 4.0 didukung oleh Big Data dan Artificial Intelligent yang dipandang sangat strategis dalam meningkatkan keselamatan publik dan memandu pembangunan sosial ekonomi di wilayah Indonesia Timur, khususnya di Maluku Utara.

"Nilai strategis tersebut dikarenakan Maluku Utara berada di bibir Pasifik, terdiri dari pulau-pulau berjumlah kurang lebih 820 pulau, yang 10 persen di antaranya telah dihuni. Sementara itu 76 persen wilayah Maluku Utara ini terdiri atas lautan dan 24 persen daratan, serta merupakan daerah pinggir terluar Indonesia dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi karena kondisi geografisnya, serta sering menghadapi bencana hidrometeorologi dan gempabumi," jelas Dwikorita, di Jakarta, Senin (16/4).

Dwikorita menjelaskan, penduduk Maluku Utara banyak yang memiliki mata pencaharian di laut. Sebagian nelayan ada yang menggunakan perahu motor serta memiliki alat navigasi, namun masih banyak nelayan Maluku Utara yang masih menggunakan perahu tradisional dan mereka inilah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

Oleh karena itu, informasi BMKG sangat dibutuhkan oleh masyarakat Maluku Utara. Bagi masyarakat, BMKG memiliki peran yang sangat penting, terutama terkait masalah peringatan dini. 

Daerah Maluku Utara sering terjadi puting beliung yang umumnya terjadi di laut hingga mengakibatkan kecelakaan. Ini dikarenakan masyarakat belum siap dengan adanya cuaca ekstrem yang datang mendadak.

Kepala BMKG juga menyampaikan, Maluku Utara merupakan provinsi yang memiliki wilayah yang strategis yang berlokasi di garda depan wilayah Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina.

Selain itu merupakan bagian dari poros maritim yang menghubungkan antara Bitung, Ternate dan Sorong. "Oleh karena itu, jangan sampai titik lemah ada di Maluku Utara, yang juga merupakan garda terdepan Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga," ujar Dwikorita.

Kondisi geografis Maluku Utara serta banyaknya bencana hidrometeorologi dan gempabumi, oleh Kepala BMKG diharapkan tidak membuat masyarakat Maluku Utara berada dalam ketakutan dan kecemasan, namun hal tersebut dijadikan semangat untuk meningkatkan kemampuan dan ketangguhan dalam beradaptasi dengan kondisi cuaca, iklim dan gempabumi, serta untuk membangun budaya Siap Selamat.