Pemerintah Dukung Kesehatan Jemaah Haji lewat Program Implementasi Ramah Lansia

: Jemaah haji Indonesia/Foto: Kemenkes


Oleh Putri, Jumat, 17 Mei 2024 | 23:11 WIB - Redaktur: Untung S - 59


Jakarta, InfoPublik - Untuk mendukung kesehatan jemaah haji lanjut usia (lansia), pemerintah adakan program implementasi ramah lansia yang sudah dimulai sejak penyelenggaraan ibadah haji 2023 dan kembali diterapkan secara matang di 2024.

Pada program ini, setiap petugas yang sudah dinyatakan lulus meskipun belum berangkat akan dilibatkan dalam kegiatan manasik haji. Pada manasik sebelum keberangkatan, terdapat kegiatan pengukuran kebugaran untuk jemaah haji.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Liliek Marhaendro Susilo melalui keterangan resminya Jumat (17/5/2024) mengatakan selama manasik, kesehatan jemaah haji dimonitor untuk memastikan jemaah sudah benar-benar sehat secara fisik dan mental saat berangkat.

“Dengan kami libatkan para petugas, baik Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) maupun Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) yang bertugas di dalam kegiatan manasik, para petugas akan lebih dini kenal kepada jemaah yang akan berangkat,” kata Liliek.

Kenal lebih dini ini, lanjutnya yang diharapkan terjalin hubungan emosional secara pribadi. Sebelumnya jemaah haji bersama petugas kesehatan pendamping bertemu di embarkasi sehingga terasa masih asing.

Akibatnya, ketika di pesawat jemaah menjadi agak sungkan. Padahal, sebagian besar jemaah adalah mereka yang belum pernah naik pesawat, jarang bepergian naik pesawat dan tidak selama waktunya perjalanan ke Jeddah, yang membutuhkan waktu 10 jam.

“Karena itu, seringkali timbul masalah-masalah kesehatan berkaitan dengan hal-hal yang sebenarnya merupakan siklus rutin. Misalnya, buang air kecil, bagaimana menggunakan toilet, mereka sungkan bertanya. Ini yang kita mesti edukasi kepada jemaah supaya selama di pesawat tetap makan dan minum,” kata Liliek.

Menurutnya, jika sudah terjalin maka diharapkan jemaah tidak lagi sungkan dan tidak malu lagi untuk bertanya. Liliek juga meminta tenaga kesehatan juga pro aktif memberkan penjelasan, bagaimana cara menggunakan fasilitas pesawat dan lainnya.

Pemantauan kesehatan jemaah juga dilakukan secara ketat di kloter, terutama bagi jemaah yang masuk kategori risiko tinggi (risti) kesehatan. Kategori risti kesehatan berdasarkan jamaah lansia dan punya komorbid serta jamaah belum lansia tetapi punya riwayat penyakit.

“Kami kelompokkan, 30 orang teratas itu masuk kategori jemaah prioritas yang mesti dimonitor kesehatannya secara rutin, minimal dua hari sekali untuk ditensimeter. Kemudian, dilihat saturasi oksigen juga dilihat denyut jantungnya seperti apa,” kata Liliek.

Ia mejelaskan, jemaah haji Indonesia dengan risti jumlahnya semakin meningkat setiap tahunnya karena antreannya panjang. Yang sudah mendapatkan porsi untuk berangkat haji sekitar 5,4 juta orang. Sedangkan kuota yang berangkat setiap tahun, kuota normal Indonesia sebanyak 221.000.

"Sekarang kuota kita 241.000. Kalau kita bagi antara 5,4 juta dengan kuota normal 221.000, rata-rata secara nasional, antrean orang pergi haji sejak mendaftar sampai berangkat itu 24 tahun," kata Liliek.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 17:10 WIB
Kemenkes Komitmen dalam Peningkatan Layanan Bedah Saraf
  • Oleh Putri
  • Rabu, 12 Juni 2024 | 15:29 WIB
Wamenkes RI Tekankan Obat Harus sampai ke Daerah Terpencil
  • Oleh Putri
  • Selasa, 11 Juni 2024 | 21:24 WIB
KKHI Makkah Fasilitasi Jemaah Sakit Jalani Safari Wukuf