Anak Muda Diajak Belajar Perkembangan Teknologi Komunikasi di Muspen TMII

: Ketua Tim Audio Video dan Media Sosial (AVMS) Direktorat Pengelolaan Media Kominfo, Dimas Aditya Nugraha dalam HUT ke-31 Muspen (Agus Siswanto/InfoPublik)


Oleh Wahyu Sudoyo, Sabtu, 20 April 2024 | 21:47 WIB - Redaktur: Untung S - 194


Jakarta, InfoPublik – Masyarakat, khususnya anak-anak muda, diajak untuk belajar mengenai perkembangan teknologi komunikasi yang menjadi saksi sejarah Indonesia di Museum Penerangan (Muspen) Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

“Kita mengalami banyak masa (perkembangan komunikasi). Kalau kita masuk Museum Penerangan, pertama kali kita melihat kentongan besar yang dahulu bisa digunakan untuk (membunyikan) tanda bahaya, mengumpulkan orang-orang dan lain sebagainya. Sekarang kita menggunakan TOA (pengeras suara), Gawai, WhatsApp grup dan lainnya,” ujar Ketua Tim Audio Video dan Media Sosial (AVMS) Direktorat Pengelolaan Media Kominfo, Dimas Aditya Nugraha, dalam sambutannya di acara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-31 Museum Penerangan, TMII, Jakarta Timur, pada Sabtu (20/4/2024).

Dimas mengatakan, Indonesia merupakan negara yang kaya, tidak hanya dari sisi luar wilayah hingga latar belakang penduduknya yang terdiri atas berbagai ras, agama, dan suku bangsa, melainkan juga dari cerita komunikasinya.

Kekayaan sejarah komunikasi Indonesia itu bisa dilihat lengkap di Museum Penerangan yang diresmikan pada 20 April 1993 lalu oleh Presiden kedua Republik Indonesia Soeharto.

“Ketika masuk ke sini kita akan melihat sejarah komunikasi Indonesia, namanya Museum Penerangan. Dulu namanya Departemen Penerangan, sekarang namanya Kementerian Komunikasi dan Informatika. Disini cerita tentang komunikasi Indonesia dari mulai zaman dulu pakai kentongan sampai sekarang era digital,” jelasnya.

Menurut Dimas, kendala komunikasi selalu ditemui dalam setiap era dalam bentuk yang berbeda-beda.

Misalnya pada saat belum ada teknologi canggih, komunikasi hanya bisa dilakukan dengan memanfaatkan alat-alat seadanya seperti kentongan, sehingga pesan yang dikirim tidak bisa tersampaikan secara utuh.

Sedangkan pada saat ini, kendala komunikasi yang ditemui adalah maraknya peredaran berita palsu (hoaks), sehingga masyarakat akan mendapatkan informasi yang tidak benar.

“Jadi kalau kita menonton di teater (dalam Museum Penerangan) itu ada juga animasi atau kartunnya tentang penanganan hoaks,” imbuh Ketua Tim AVMS Dit Pengelolaan Media Kominfo itu.

Dia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan Museum Penerangan sebagai tempat berkumpul bersama keluarga karena tidak dikenakan biaya atau gratis.

Selain itu, lokasinya yang berada di dalam TMII dinilai membuat museum itu bisa menjadi pilihan ketika sedang berekreasi menikmati suasana indah lokasi wisata ini setelah direvitalisasi.

“Selamat HUT ke-31 Muspen Bestie, manfaatkan muspen ini sebagai tempat pembelajaran, edukasi dan berkumpul bersama keluarga,” tandas Dimas.

 

Berita Terkait Lainnya

  • Oleh Wahyu Sudoyo
  • Minggu, 19 Mei 2024 | 15:50 WIB
Starlink dipastikan Tak Dapat Insentif dari Pemerintah
  • Oleh Wahyu Sudoyo
  • Minggu, 19 Mei 2024 | 15:16 WIB
Elon Musk Jadi Tamu Undangan World Water Forum ke-10
  • Oleh Wahyu Sudoyo
  • Minggu, 19 Mei 2024 | 08:54 WIB
Menkominfo: Kemajuan Digital Perlu Perhatikan Aspek Pemerataan
  • Oleh Wahyu Sudoyo
  • Sabtu, 18 Mei 2024 | 23:14 WIB
Gedung Baru Lengkapi Transformasi STMM "MMTC" Yogyakarta
  • Oleh Wahyu Sudoyo
  • Sabtu, 18 Mei 2024 | 23:17 WIB
Ratusan Jurnalis Antusias Meliput World Water Forum ke-10 di Bali